Sabtu, 18 Juni 2016

Apa Guna Bersatu

Apa guna bersatu
Kalau tak saling bercumbu
Apa guna bersatu
Kalau tak saling membantu

Apa guna bersatu
Jika kepala sekeras batu
Apa guna bersatu
Jika hati sudah membeku

Apa guna bersatu
Kalau tujuannya masih tabu
Apa guna bersatu?!
Ya untuk sesuatu...

( - xbrahmansx - )

Jumat, 10 Juni 2016

Dibalik Segelintir Kata-Kata Ini

Dibalik tembok-tembok besar yang kau nikmati
Ada jutaan manusia yang diperbudak dan mati

Dibalik makanan mewah yang kau cicipi
Ada ribuan pekerja yang dieksploitasi dan kurang gizi

Dibalik jalan-jalan yang kau lewati
Ada ratusan hutan dan hewan yang mati


Dibalik rumah dan apartemen yang kau tinggali
Ada puluhan pulau buatan yang direklamasi

Dan...
Dibalik segelintir kata-kata ini
Ada seseorang yang menyadari kehidupan ini

Pikirkan.. Pikirkanlah sekali lagi atau kalian yang akan “dinikmati”


( - xbrahmansx - )

Kamis, 02 Juni 2016

Melawan Gelap

Tangisan hujan membasahi bumi
Yang kian ternodai
Dewi keadilan telah mati
Lantaran ditusuk sepi

Ombak-ombak besar datang
Menghantam segala macam
Menginjak-injak kebenaran
Karena terhasut nafsu setan

Negeriku semakin seram
Membuat hati menjadi geram
Wahai bulan datanglah kemari
Bantu aku menyinari

(xbrahmansx)



Yuk, Kongkow Depan Istana Bersama Indonesia #MelawanGelap!


Karena kita resah.



Jika putusan pengadilan yang menyatakan reklamasi keliru tapi tidak diindahkan. Kalau penjahat HAM dan pelaku korupsi yang lolos dari pengadilan malah diusung jadi pahlawan nasional. Dan, ketika privatisasi dan komersialisasi sumber daya alam terus berjalan tanpa keberpihakan rakyat. 


Karena kita gundah.



Jika pelarangan, intimidasi, pembubaran paksa, penangkapan sewenang-wenang, pembredelan dan pencekalan semakin meningkat. Kalau, kekerasan seksual hanya direspon dengan Perppu berisi sanksi hukuman kebiri. Dan, pada saat sekitar 157 ribu berkas perkara dikembalikan penuntut kepada penyidik (2012-2014) yang berakibat memperluas celah korupsi dan menciptakan inefisiensi peradilan.
Ketika petani dan nelayan direpresi dan ditangkapi karena mepertahankan tanah-airnya, dibiarkan mengalami konflik agraria sendirian berhadapan dgn konsesi-konsesi raksasa.



Karena kita merasa sedang dirudung kegelapan lagi. Karena demokrasi yang kita nikmati sepertinya bukan yang kita inginkan. Karena itu semua, kita mengundangmu untuk #MelawanGelap dengan kongkow depan Istana Negara pada Jumat (3 Juni 2016) jam 21.00. Disana, kita akan menyalakan cahaya (senter/lilin/dll) sebagai tanda kita terus#MelawanGelap!



Turut mengundang: Haris Azhar, Nur Hidayati, Iwan Nurdin, Dewi Kartika, John Muhammad, Miko Ginting, Choky Ramadhan, Cholil (ERK), Mike (Marjinal)



Jumat, 15 April 2016

Khilafah Bukan Solusi Untuk Indonesia

Judul Buku : Ilusi Negara Islam: Ekspansi Gerakan Islam Transnasional di Indonesia

Editor : KH. Abdurrahman Wahid

Penerbit : Gerakan Bhineka Tunggal Ika, the Wahid Institute dan Maarif Institute

Edisi : 2009

Tebal : 321 halaman



Seperti diketahui, ide dan aspirasi pendirian negara Islam di Indonesia telah melahirkan beragam respon dan tafsiran di masyarakat, baik di kalangan Muslim maupun non-Muslim. Ada yang berpandangan, isu negara islam sengaja dihembuskan untuk mendiskreditkan kelompok-kelompok Islam, tapi sebagian yang lain mengakui dengan terus terang bahwa ide dan aspirasi pendirian negara Islam dewasa ini benar-benar ada dan akan direalisasikan.

Gerakan garis keras lahir karena hilangnya daya nalar dalam beragama dan kurangnya pengetahuan tentang tujuan kehidupan ini. Pengetahuan yang terbatas membuat hawa nafsu tidak mampu membedakaan antara "Jalan" dan "Tujuan", dalam memahami Islam pun kerap mempersetankan ayat-ayat lain yang tidak sejalan dengan ideologinya.

Terlihat sekali dengan maraknya khutbah yang terang-terangan berisi anti demokrasi dengan alasan kebarat-baratan atau pancasila tidak bisa diterima dalam islam karena buatan manusia. Lucu sekali rasanya tinggal di negara demokrasi tetapi masih ada yang menggunakan nikmatnya demokrasi untuk menolak demokrasi itu sendiri. Padahal dari dulu negara ini sudah beranekaragam jadi kenapa harus dipaksakan menjadi seragam?!

Penyusupan ideologi memang tidak dirasakan oleh banyak orang, gerakan ideologi sering tidak dirasakan dan disadari oleh mereka yang dimasuki. Maka secara sistematis berkembang menjadi besar dan merasuk. Dengan demikian, gerakan ideologis seperti itu akan semakin mekar dan berekspansi secara sistemik, yang dikemudian hari baru dirasakan sebagai masalah serius tetapi keadaan sudah tidak dapat dicegah dan dikendalikan karena telah meluas sebagai gerakan yang dianut oleh banyak orang.

Isu penegakan syari'ah Islam seperti yang terlihat dalam kasus keluarnya Perda-perda Syari'ah memang telah memunculkan spekulasi yang mengarah pada ide pendirian negara Islam. Di samping itu, faktor korupsi, tidak adanya jaminan kepastian hukum, proses peradilan yang tidak independen dan sering direcoki berbagi kepentingan, juga telah memberi alasan pada kelompok-kelompok garis keras untuk menawarkan alternatif hukum, walau permasalahan yang sebenarnya bukan pada aspek diktum hukum melainkan aparat hukum.

Apakah Perda-perda Syari'ah Islam yang banyak bermunculan di tanah air kita akhir-akhir ini akan menciptakan "Kebahagian" yang sebenarnya bagi bangsa Indonesia jika sudah terbukti gagal di negara-negara lain?

Satu-satunya cara untuk mencapai kebahagiaan dan kesempurnaan hidup yang sebenarnya di dunia dan akhirat, adalah dengan mengikuti syari'ah dalam pengertian yang paling dalam dan luas, yakni sebagai jalan menuju Allah swt. Realisasi semacam ini bisa terlihat pada jiwa-jiwa yang tenang, yang berserah diri, tunduk, dan patuh secara jasmaniah (fisikal), nafsaniyah (emosional) dan rohaniah (spiritual) hanya kepada-nya, dan menjaga diri agar tidak didominasi oleh hawa nafsu. Kebahagiaan dan kesempurnaan hidup tidak akan pernah bisa dicapai melalui pemaksaan maupun formalisasi agama, tetapi melalui kesadaran yang tumbuh di dalam hati. Ironisnya, hampir semua garis keras sepakat untuk menerapkan syari'ah dalam arti sempit (hukum islam) sambil menolak spiritualitas untuk mencapai tujuan yang sebenarnya.

Buku hasil penelitian selama lebih dari dua tahun ini mengungkap asal usul, ideologi dan agenda gerakan garis keras transnasional yang beroperasi di Indonesia, serta rekomendasi membangun gerakan untuk menghadapi dan mengatasinya secara damai dan bertanggung jawab.


Senin, 11 April 2016

Bukan Propaganda Vegetarian


Judul Buku : Eating Animals
Penulis : Jonathan Safran Foer
Penerjemah/Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Edisi : 2010
Tebal : 316 halaman




Manusia mendapat hak istimewa untuk bisa memilih makanan apa saja di bumi ini bukan berarti ia layak untuk memperlakukan setiap makhluk, terutama hewan sebagai sekadar santapan atau makanan tanpa menyadari bahwa mereka layak diperlakukan lebih dari korban sajian.

Buku ini bukan tentang propaganda menjadi vegetarian. Penulis lebih menuturkan buku yang ditulisnya dengan sejumlah riset dan penyelidikan secara langsung, untuk mengungkap praktik-praktik perternakan di Amerika Serikat yang sudah menyimpang jauh dari tradisi perternakan keluarga yang memperlakukan hewan secara lebih terhormat.

Dalam salah satu bab dituliskan:
Orang tidak lagi tahu asal makanan. Makanan bukan sintetis, bukan dibuat di lab, tapi harus ditumbuhkan. Yang saya benci adalah ketika konsumen bertindak seolah peternak mau melakukan hal ini, padahal konsumenlah yang memberitahu petani apa yang harus ditumbuhkan. Mereka mau makanan murah. Kami tumbuhkan. Kalau mereka mau telur dari ayam yang tidak dikandangkan, mereka harus bayar lebih mahal. Titik. Produksi telur oleh ayam-ayam yang dikurung dikandang petelur raksasa lebih murah. Lebih efisien dan artinya lebih berkelanjutan. Ya. Saya bilang perternakan pabrik bisa jadi lebih berkelanjutan., biarpun saya tahu kata itu sering dipakai untuk melawan industri. Dari Cina sampai India dan Brasil, permintaan produk hewan terus tumbuh cepat. Kamu kira perternakan keluarga bisa melayani dunia berisi sepuluh miliar orang?

Yang membuat saya tercengang dalam penyelidikan dan riset yang ditulis dalam buku ini adalah ketika penulis mengungkap genetika hewan dan menurut akal sehat saya pun memang benar adanya. Mereka membuat hewan agar lebih cepat gemuk dalam waktu sesingkat mungkin, membuat hewan lebih cepat bertelur sebelum waktunya tiba dengan tipuan seperti lampu untuk mengganti panasnya matahari dan tidak mengumbar atau mengajak hewan ke alam luar, mereka hanya dikandang sempit dengan jumlah yang banyak, itu semua agar tidak terlalu banyak mengeluarkan biaya dan sebisa mungkin untung sebesar-besarnya.

Buku ini mengajak kita mencerahkan diri dari sekadar menuruti kebiasaan menjadi hidup yang berkesadaran, Mungkin inilah saatnya kita menyadari kehidupan di balik santapan kita.





Kamis, 17 Maret 2016

Pee Wee Gaskins - A Youth Not Wasted (Album Review)



Pee Wee Gaskins
A Youth Not Wasted


Label   : Universal Music Indonesia
Genre  : PopPunk

PopPunk Not Dead! Akhirnya Pee Wee Gaskins merilis album barunya, setelah sebelumnya sempat manggung bareng 5 Seconds of Summer band asal negeri kangguru. Tetap dengan nuansa poppunk ala mereka yang sangat unik, di album ini mereka menyuguhkan 10 track dibawah naungan major record label Universal Music Indonesia. Ada progress menarik dari album mereka sebelumnya, disini mereka terlihat lebih dewasa dengan tetap menjadi diri sendiri.

Melihat daftar lagunya, mata langsung mengarah ke “Teriak Serentak” selain karena featuring Bagoes vokalis dari band hardcore Final Attack dilagu ini kita akan dibuat sing along. Cukup terkejut ketika lagu ini dimainkan pada acara Launching Party nya di beer brother Kemang Jakarta Selatan sih Sansan (Vokalis/Gitar) tidak mainkan gitarnya cukup pegang Mic dan sing along bareng Dorks (Sebutan untuk fans PWG) dan crowd pun dibanjiri stage dive & surfing keren makin mirip New Found Glory, yang katanya Influence mereka.

Sebelumnya mereka juga meluncurkan single “Kertas dan Pena” yang katanya besok di tanggal 18 Maret (tepat ulang tahun gue :p) video klipnya akan rilis, yang di sutradarai oleh om dari sang drummer, Aldi Kumis. Lagu ini pun liriknya sangat menarik, yang membahas bahwa setiap keputusan tetap ada ditangan kita dan lirik ini bukan hanya untuk pasangan yang mau putus tapi untuk General jadi untuk siapapun, ujar sang Frontman Pee Wee Gaskins, Dochi Sadega diacara Taman Buaya Beat Club TVRI.

Sepertinya mereka tak cukup puas di mini album yang di rilis 2012 kemarin. Mereka kembali melantunkan lagu “You And I Going South” di album ini, yang juga menjadi judul mini album mereka itu. Lagu yang berhasil membawa mereka meluncur ke Negeri Sakura ini sudah tidak asing dikalangan Dorks & Tatiana karena sudah sering dibawakan setiap mereka manggung.

Oke skip that, beberapa lagu lain yang direkomendasikan adalah “Serotonin” yang juga featuring dengan Gania Alianda vokalis Billfold band asal Bandung. Lagu “Sassy Girl”, “Here To Stay”, “Sad Song Sing Along”, “Jumping Jupiter” juga enak untuk di play dengan speaker volume full yang membuat tetangga marah-marah karena lagi sakit gigi ^_^.

Dan masih ada 2 lagi lagu yang saya belum sebut yang sebelumnya pernah di rilis di EP 2014 The Transit, kalian harus dengarkan itu dan miliki albumnya. Untuk cover album kali ini sedikit berbeda dari sebelumnya walaupun masih berkonsep kartun dan karikatur diri mereka, entah mungkin karena pengaruh dari label baru mereka atau karena biar pas sama judul album tersebut “A Youth Not Wasted” tentang masa muda yang tidak disia-siakan, sangat pas buat penggemar mereka yang mayoritas remaja.

Overall, mereka tetap konsisten memainkan musik dengan ciri khasnya "Gaskins" sang pembunuh berantai itu. Dan pastinya Dorks di Indonesia siap menunggu kalian untuk tour dan acara Summer Camp yang akan dilaksanakan dipenghujung bulan ini.  [Billy Jon]

Selasa, 15 Maret 2016

Polemik Transfortasi Online



Senin 14 Maret 2016 sejumlah angkutan umum seperti Taksi, Kopaja, Metromini dan Mikrolet tidak beroperasi karena mereka melakukan unjuk rasa menolak transfortasi berbasis aplikasi atau online, mereka menganggap dengan adanya transfortasi online ini potongan kue mereka menjadi berkurang. Akibatnya penumpang yang biasa menggunakan angkutan umum ini menjadi terlantar.
 
Menurut saya, menolak transfortasi online dengan cara seperti ini malah membuat peluang bagi transfortasi online karena penumpang yang biasa menggunakan angkutan konvensional tidak ada pilihan lain untuk menuju tempat tujuan. Akhirnya mereka terbuka untuk menggunakan transfortasi online.

Sebenarnya pun transfortasi online ini sangat membantu warga, khususnya masyarakat urban seperti Jakarta ini karena selain membantu mengurangi kemacetan, transfortasi online seperti Gojek atau Grabbike ini membuka lapangan pekerjaan bagi semua kalangan. 

Lagi pula potongan kue angkutan konvensioal berkurang bukan sepenuhnya karena transfortasi online, potongan kue mereka berkurang karena mereka gagal menjual dagangannya bukan karena pembelinya diambil transfortasi online. 

Kalau angkutan konvensional menuntut menghapus transfortasi online ini hanya karena potongan kue mereka berkurang, kenapa pedagang toko tidak menuntut pedagang online yang tidak punya toko?-__- karena mereka punya target pasar yang berbeda dan yang selalu berinovasilah yang selalu jadi market leader. 

Memang transfortasi online yang semakin marak sekarang harus tetap dibatasi jumlahnya dan diawasi perijinannya seperti npwp, dll karena jika tidak akan jadi boomerang dimasa depan.

Ini hanya sebuah opini jika ada kekurangan mohon ditambahkan #Salam

[Billy Jon]